Tayangan :

Putri Malu versus Bajak Laut

Ini adalah kisah yang terjadi di kantor saya. Tokoh2xnya pun terdiri dari orang-orang yang gokil abis. Bukan cerita 1001 Malam, bukan…. Melainkan, tokoh2x yang akan saya ceritakan di sini adalah tokoh2x dengan karakter aneh, nyeleneh, dari latar belakang, kultur dan pendidikan yang berbeda2x pula… yang tidak akan kalian jumpai di belahan dunia manapun melainkan di kantor saya- bahkan dari cerita Waltdisney sekalipun. Kalian tidak akan menjumpai karakter seperti ini karena mereka adalah… teman2x kerja saya.
Sebut saja inisialnya ‘ND’. Dia satu-satunya ‘perawan’ yang tersisa di divisi saya (divisi keuangan). Konon dia masih keturunan ningrat karena dari namanya saja masih tersemat kata ‘raden’. ‘RND’ – Raden ‘ND’, begitu biasanya dia menuliskan namanya, sehingga kami sering memanggilnya dengan ‘Rendang’
(karena seringnya dia makan rendang).
Sifatnya jujur, polos, tutur-katanya sopan dan tertata, sehingga kalau berbicara rapi: selalu subyek-predikat-obyek, kalimatnya tidak pernah berantakan. Pembawaannya sangat-sangat-sangaaatt… lemah lembut. Lembutnya melebihi lembutnya putri solo - dengan gerak dan suara yang sangat-sangat-sangaaatt…. supeeerr pelaaannn… (saya tidak hiperbola lho. Bukan satu-dua orang yang berkesimpulan, ‘kok masih ada ya gadis seperti ini di jaman sekarang?’). Mungkin, bagi sebagian orang dia terlihat ‘nganeh-nganehi’ – istilahnya, untuk yang belum mengenalnya. Untuk selanjutnya, ‘ND’ ini akan berperan sebagai Putri Malu.
Lalu ada juga ‘TK’. Nah, ‘TK’ ini nih yang lebih tepat berperan sebagai Bajak Laut. Sebenarnya banyak sih yang berkarakter bajak laut di sini, ada ‘UF’, ‘IN’, ‘YL’, dan bisa jadi saya pun termasuk di dalamnya. 'UF' karakternya keras, siapapun akan susah menolak kemauannya. 'IN' bawel, pinter ngeles, ssstt... jangan tergoda rayuannya. 'YL', wah... ini dia ratunya - kalau 'ND' atau Putri Malu sebagai upik abu, 'YL' inilah yang menjadi ibu tirinya. Sedang saya sendiri... saya cukup menjadi penasehat yang arif dan bijaksana.... (hehehe, berhubung saya yang menulis, saya berhak dong menempatkan diri saya sebagai apa saja? -dilarangprotes.com- Dan kamilah sekumpulan bajak laut! Bukan karena kami kejam, tapi karena kekacauan yang sering kami buat itu lho. Suara kami dari sononya sudah ber-set ‘stereo’, menggelegar – persis bajak laut.
Pagi hari boleh jadi kantor senyap barang sejam-dua jam… untuk selanjutnya - mungkin juga ini pengaruh dari hormon estrogen kami yang meningkat seiring dengan tekanan2x pekerjaan, laporan, dikejar deadline-, untuk dua-tiga jam selanjutnya kantor lebih mirip seperti pasar ayam, petok3x…. Saya yakin tidak ada kantor yang seberisik kantor kami, hehehe… (*banggamodeon*) .
Okey… supaya lebih keren, bayangkanlah kantor kami seperti bursa saham yang sering terlihat di tv2x. Bunyi telepon berdering di sana-sini, orang2x lalu-lalang keluar masuk antar ruangan, protes, bertanya, diskusi, dst… berisik sekali-begitulah kondisi kantor dengan banyaknya bajak laut.
Dan satu lagi keahlian kami, yaitu dalam hal ‘palak-memalak’ alias nodong - jangan ditanya, kami-lah jagonya…. Tapi tunggu dulu Kawan, kami tak sekejam itu-lah…. Kami me’malak’ seikhlasnya kok, seribu, dua ribu, tiga ribu… Kami adalah bajak laut yang baik hati dan tidak sombong. Kami selalu mengutamakan kepentingan bersama. Biasanya, hasil dari ‘palak’an yang terkumpul akan kami belikan gorengan untuk dimakan rame2x, supaya seru dan suasananya nggak garing – gitu…. Memalukan? Iya juga sih, hehehe… (maksudnya, kenapa cuman gorengan??? Kenapa nggak pizza, J-co, atau Hokben - yang lebih berkelas - misalnya, hehehe…) Tapi, nggak apa2x lah, bagi kami yang penting adalah kebersamaan. Bahkan orang yang tadinya kena ‘palak’pun ikut menikmati hasilnya alias ikut makan juga.
Saya rasa cukup adil.
Biasanya,
Saya cukup di belakang meja, tanpa beranjak dari tempat duduk saya, dengan sendirinya ‘Srimulat’ (jaman dulu) atau ‘Opera Van Java’ (sekarang) dimulai…. Serasa mendapat keasyikan tersendiri. Lucu, konyol, menghibur…. tokoh2x antagonis mulai mendzalimi tokoh protagonis….
Diprediksi nggak bakalan kuat, seorang Putri Malu ditempatkan di tengah2x Bajak Laut. Karena rasa sayang kami pada ‘Putri Malu’, kami sepakat akan men-trainingnya dulu. Ini Jakarta, Non… seorang putri malu di tengah ganasnya samudra kehidupan… sudah dipastikan tak akan bertahan lama.
Pertama : Kami sepakat akan mengubah putri malu yang polos, pasrah dan tak berdaya ini menjadi cewek yang tegar dan mandiri. Caranya? Kami suruh-suruh terus dia. Kalau biasanya kami yang ‘nodong’, sekarang gantian dia yang ‘memalak’. Setelah kami paksa2x (kami dorong2x juga), target sasaran kami sudah berdiri di depannya, … Putri Malu cuman menggeleng pelan di balik kerudungnya, lalu bergumam, “Malu, Mbakkk….”
Gedubrakkk! Habis dia kami omelin. ‘Mau jadi apa? Jakarta, gituuu… masih piara malu?’
Kedua : Tragedi selanjutnya adalah menghilangkan kebiasaan2x yang merepotkan. Misal: dia tidak bisa makan tanpa sendok-garpu (wow, table manner-nya jalan banget tuh). Sengaja pas jam makan siang kami berebut sendok-garpu di pantry (kalaupun ada sisanya kami umpetin), dengan maksud supaya Putri Malu nggak kebagian. Kami makan, dia nunggguuu… terus. Dia nggak bisa makan pakai tangan. Dia pilih nggak makan kalau nggak memakai sendok-garpu, ckckck….
Ketiga : Dia itu cewek lemah-lembut, tipe tak berdaya deh. Bahkan ketika kami dengan serunya membahas soal poligami, dengan lemah-lembutnya dia bilang bahwa dia tak menolak poligami. Bahkan dia rela dijadikan istri kedua dari salah seorang pejabat negeri ini yang kebetulan adalah idolanya. What??? Habis dia kami bego2xin. Untuk selanjutnya dia seperti termenung dan mungkin berpikir, ‘Apa salahnya poligami?.

Insiden Bajak Laut menganiaya Putri Malu tidak sampai disitu....

Keempat : Test kegesitan. Lengah sedikit, barang2xnya ludes kami umpetin. Tas, handphone, sandal, kerudung, jam… setelah dia sibuk mencari2x dan putus asa, kami tinggal menawarkan jasa, ‘Kalau ketemu mau dikasih apa?’.
Kelima : Putri Malu tidak pernah pergi ke bioskop. Bukan karena dia nggak punya duit untuk bersenang2x…. Tapi karena gaya hidupnya nggak neko2x alias monoton (saya sempat berpikir kok dia betah ya hidup seperti itu?). Dia nggak pernah naik bus umum, nggak pernah naik KRL, nggak pernah naik komidi putar, nggak pernah nonton sirkus, bahkan nggak pernah makan buah srikaya (hayooo, yang nggak pernah makan buah srikaya berarti sama katroknya dengan Putri Malu). Akhirnya kami ajak dia nonton bioskop rame2x, … Twilight. Sudah bisa ditebak, tiap nyerempet2x adegan romantis dia akan memejamkan matanya dan istighfar… Saya geli, merasa sedang ‘momong’ anak saya – Aning. Saya yakin dia tidak pernah makan gulali....
Kami para Bajak Laut suka gemas dibuatnya. Hidupnya itu lho, lurus... polos... nggak pernah belok2x... yakin deh, bakalan ngantuk ngelihatnya. Tidak seperti kami dong, para bajak laut... hidup semarak dan penuh warna, bahagia....
Sebagai wujud keprihatinan kami, kami sepakat akan memberinya pengalaman. Kami adalah bajak laut yang baik dan tidak sombong. Kami ajak dia berdesak-desakan naik KRL ekonomi, kami ajak dia ke terminal, ke pasar. Bahkan pada suatu kesempatan, sewaktu ke Taman Safari – acara kantor, saya ajak dia naik onta… Ya, onta beneran! Selesai naik onta saya tawarkan dia, ‘Mau nggak naik beruang?’. Dia jawab dengan lugunya, ‘Maauuu….’
Putri Malu… belum pernah saya mendapati gadis sepemalu dia. Saya pernah test. Saya cukup duduk di depannya, tidak perlu melakukan apa-apa. Cukup memperhatikan setiap geraknya, barang satu-dua menit dia akan bingung dengan sendirinya dan menutup mukanya serasa memohon, ‘Mbak, jangan dilihatin, maluuu….’ Ya ampyunnn…. Seorang ibu2x, gitu… bukan cowok ganteng sekelas Nikolas Saputra…. Saya tidak bisa bayangkan bagaimana dia berpacaran dengan seorang cowok?
Konon, dia sekarang sedang taaruf dengan seorang pemuda pilihan mamanya. Dijodohkan. Mungkin memang sudah garis hidupnya, terlindungi, serba nyaman dan terjamin. Belum tentu dia bisa mendapatkan pemuda sebaik pilihan mamanya itu (bibit-bebet-bobot dan kualitas agamanya). Rencananya tahun depan dia akan menikah dan dia akan diboyong suaminya keluar kota.
Ahh, susah juga ya kalau dia berhenti kerja. Kami para bajak laut akan kebingungan, soalnya tidak ada mainan, tidak ada yang bisa kami ‘aniaya’ lagi…. Mudah2xan pengalaman2x yang dia dapatkan di sini memberinya warna....
Akan saya usulkan ke SDM, mudahan2x pengganti 'Putri Malu' nanti adalah seorang yang nyeleneh seperti ‘RND’ ini - yang lain daripada yang lain -, minimal bule gitu, hehehe... Lucu kali ya kalau di kantor saya ada seorang bule yang bisa kami kerjain habis2xan… Ya iyalah, karena kami adalah para Bajak Laut yang sedang mencari mangsa....
(Sampai di sini dulu ya, Kawan. Lain kali akan saya ceritakan keunikan2x teman2x saya yang lain.)

Tidak ada komentar: